5 CEO Yang Menyelamatkan Perusahaan Dari Kebangkrutan

“Pengen jadi bos” adalah 3 kata yang menjadi impian indah bagi banyak orang. Membayangkannya saja memang muda karena terlihat hanya menyuruh-nyuruh karyawan saja. Nyatanya, nggak senikmat itu. Memimpin anak buah sekaligus sebuah perusahaan harus punya komitmen, tanggung jawab besar serta pengambil keputusan handal dalam menghadapi beragam tantangan. Keberhasilan yang diraih pun nampaknya gampang, padahal mencapainya saja menemui kerikil hambatan.

Tapi, jatuh bangun dalam bisnis sudah jadi hal wajar, hanya saja tergantung para pemimpinnya apakah mereka mampu membangun ulang usahanya, atau menyerah pada keputusasaan. 5 CEO dibawah ini terbukti mampu membawa perusahaannya kembali melesat setelah mengalami mimpi buruk kebangkrutan:

  • Lee Lacocca

Ia adalah nama yang berhasil menyelamatkan perusahaan raksasa Chrysler dari ambang bencana. Sebagai pemimpin ia mengambil langkah strategis di bidang keuangan seperti PHK karyawan dengan empati, komunikasi yang baik dengan stakeholder serta melakukan perampingan di hal-hal lainnya. Dengan upaya tersebut, Chrysler menghasilkan laba yang cukup besar kurang dari 4 tahun.

  • Ed Whitacre

Sebelum Ed bergabung, General Motors, perusahaan otomotif besar terancam bubar karena persaingan dengan Toyota Motor Corp dari Jepang. Ed diharapkan bisa memenangkan persaingan pasar demi membangkitkan General Motors. Dengan upayanya, perusahaan tersebut bisa mencapai penawaran saham tertinggi sepanjang sejarah.

  • Issac Perlmutter

Tahukah kamu jika raksasa Marvel Comic pernah hampir tumbang di akhir 1996? Alasannya karena sejumlah faktor misalnya kurangnya minat orang di saat itu untuk membeli komik serta buruknya pengambilan keputusan. Datangnya Isaac membawa angin segar bagi Marvel dengan menggabungkan Toy Biz demi mengurangi banyaknya masalah di tubuh Marvel. Kerennya kemampuan pengelolaan keuangan, Isaac mampu menghidupkan kembali kejayaan Marvel.

  • Dan Hesse
SEE ALSO :   Gaji Rp 4 Juta Tapi Mau Nikah Tahun Depan? Simak Tipsnya!

Awalnya Sprint adalah perusahaan stabil sebelum bergabung dengan Nextel Communication. Sayangnya permulaan baru inilah yang membuat Sprint hampir selesai, hingga Dan Desse mengupayakan langkah cerdas dalam penerapan kelola sistem pada pelanggan. Sprint pun akhirnya bisa mencatat laba lebih besar dari jumlah kerugian sebelumnya.

  • Richard Teerlink

Setelah ditinggalkan AMF, Harley Davidson mengalami kesulitan finansial meskipun ia masih punya sedikit laba. Tahun 1985 Harley mengajukan kebangkrutan, namun Richard bersama manajemen berhasil negosiasi dan kembali mengangkat Harley ke permukaan. Seperti yang kamu tahu, Harley kini telah memiliki pengendara setia melalui berbagai komunitas di berbagai negara. Bagi pecintanya, Harley bukan hanya sekedar motor, tapi sebuah petualangan.

Menggerakan perusahaan bukan hanya perkara mendapat uang banyak saja,  tapi juga diperlukan mental serta integritas dalam menghadapi segala masalah yang mungkin akan muncul di depan.  Kegagalan akan mengajarkanmu berdiri lebih tegak dengan perasaan lapang sehingga kamu tidak mudah rapuh saat terjatuh.